Perkembangan pada Anakerupakan hal yang diidam-idamkan oleh semua orangtua jika memiliki anak yang tumbuh sehat, kuat, siap menghadapi dunia, dan memiliki sifat konstruktif dan positif akan penampilannya. Memang hal-hal tersebut hanya berkaitan dengan masalah fisik semata. Sejak awalnya, seorang anak pasti mengalami kecelakaan pada saat ia berlatih merangkak, berjalan, lari, mengendarai sepeda, dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang

berkaitan dengan fisik. Mereka mengalami lecet, bengkak dan memar, mereka bangkit dan setelah beristirahat sejenak, kembali melakukan hal-hal tersebut. Sayangnya, perkembangan emosi dan mental anak sedikit banyak penuh dengan risiko serta bahaya.

Anak-anak terlahir dengan kemampuan dan fleksibilitas pikiran yang luar biasa. Hal ini memungkinkan mereka memperoleh apa yang ingin mereka ketahui dan pengetahuan secara cepat, namun juga membuka lebar peluang efek buruk jika ada sesuatu yang salah terjadi. Kerusakan atau cacat bawaan pada otak, sebagai contoh, dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa atau bicara pada anak. Sama halnya dengan kerusakan pada telinga, atau cacat fisik lainnya, dapat menghalangi perkembangan anak dalam mempelajari bahasa secara normal dan menyebabkan mereka jauh tertinggal dari rekan sebaya mereka. Anak-anak sangat mudah mengerti sesuatu, mereka cepat tanggap dan mudah terpengaruh. Mereka juga dapat sangat waspada ketika menyadari bahwa mereka tidak dapat dikatakan ‘normal’. Ketika itu terjadi, maka hal tersebut dapat menuntun mereka pada rasa takut serta perasaan ada sesuatu yang kurang di dalam diri mereka.

Seperti halnya perkembangan berbicara dan bahasa, perkembangan emosi pada anak juga cenderung rawan terjadi kecacatan sejak awal. Menurut Erik Eriksson, pada tahun-tahun awal perkembangan anak, mereka harus mempelajari bagaimana mempercayai, kemandirian, dan mengambil inisiatif. Ketika pola pendidikan dari orangtua berjalan buruk sehingga terjadi trauma masa kecil yang tidak menyenangkan, hal ini akan mengakibatkan gangguan emosi dan ketidakpercayaan anak terhadap orangtua. Kesemuanya akan membuat anak menjalani kehidupan yang lebih sulit.

Dengan mengetahui semua bahaya dan risiko ini, apa tanggung-jawab yang harus diemban oleh para orangtua? Dalam pandangan kami, yang dapat Anda lakukan adalah menjalani peran Anda sebagai orangtua dan sebagai penjaga anak-anak Anda. Cintai, lindungi, dan peliharalah anak Anda. Jangan lupa berikan mereka kesempatan untuk menggali dunia di sekitar mereka dan biarkan mereka mendapatkan penemuan-penemuan sendiri. Ketika pada suatu ketika mereka mengalami masalah, dengan menyadari bahwa mereka masih memiliki Anda sebagai orangtua yang suportif, peduli, dan bersikap positif akan membuat mereka lebih mudah dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Faktanya, perkembangan anak tidak selalu berjalan sempurna. Semua dari kita memiliki pengalaman buruk di awal-awal kehidupan yang dapat menuntun pada masalah yang lebih rumit ketika kita beranjak dewasa. Kunci yang harus kita pelajari ialah apapun masalahnya, kita yakin dapat menyelesaikan semua itu. Sikap optimis dan semangat seperti ini merupakan jaminan kemampuan kita dalam menghadapi keterlambatan perkembangan, gangguan emosi, dan berbagai masalah psikologi anak lainnya. Anak yang belajar menumbuhkan dan menanamkan kepercayaan diri melalui orangtuanya, pasti dapat melakukan hampir semua hal.