Kanker payudara

Kanker payudara adalah kondisi di mana sel-sel mulai tumbuh dengan tidak terkendali di lobulus atau saluran payudara, yang kemudian menjadi invasif dan menyusup ke dalam sisa jaringan payudara. Ada banyak kemajuan besar dalam mendiagnosis dan mengobati kanker payudara, yang telah meningkatkan tingkat kelulushidupan wanita untuk

lima dan sepuluh tahun. Sebagian deteksi dini kanker payudara berasal dari penelitian baru pada MRI (Magnetic Resonance Imaging - Pencitraan Resonansi Magnetik) pendeteksi kanker payudara.

Keberhasilan pengobatan kanker payudara sangat tergantung pada deteksi dini, yang secara rutin menggunakan mammogram dan USG. Mamografi berkualitas tinggi adalah cara deteksi yang paling efektif untuk saat ini yang tersedia untuk skrining kanker payudara. Cara deteksi lainnya yaitu dengan USG. USG adalah teknik pencitraan dengan menggunakan gelombang suara yang tidak dapat didengar oleh manusia. Gelombang ini memantul-mantul pada jaringan dan menghasilkan gambar. USG tidak digunakan untuk skrining rutin karena tidak konsisten untuk mendeteksi sebagian jenis kanker dini, namun digunakan bersama-sama dengan mamografi dan MRI.

Perangkat lain untuk mendeteksi kanker payudara dini adalah MRI. Selama proses MRI sebuah magnet besar dihubungkan ke sebuah komputer sehingga menciptakan gambar-gambar detil dari daerah di dalam tubuh tanpa menggunakan radiasi. Selama proses MRI berlangsung ada ratusan gambar yang diambil dari setiap sisi dan dari atas ke bawah. Gambar-gambar ini kemudian dibaca di komputer dan diterjemahkan oleh ahli radiologi.

Selama proses MRI deteksi kanker payudara pasien bersandar pada perutnya di meja pemindaian. Jaringan payudara berada di dalam lekukan atau cekungan di meja. Cekungan ini berisi materi yang dapat mendeteksi sinyal magnetis dari mesin. Meja lalu bergerak menjadi mesin seperti tabung yang mengandung magnet. Bunyi mesin ini mungkin sedikit bising.

Setelah diambil beberapa gambar awal selama proses, dokter mungkin menyuntikkan bahan kontras kedalam pembuluh darah. Bahan kontras ini tidak mengandung radioaktif namun dapat meningkatkan visibilitas dari setiap tumor yang ada. Keseluruhan proses dapat memakan waktu hingga satu jam di mana pasien biasanya diminta untuk berbaring diam.

Pada waktu ini, MRI deteksi kanker payudara tidak digunakan untuk rutin skrining kanker payudara, namun digunakan dalam uji klinis. Uji klinis ini akan mencoba untuk menentukan nilai skrining dengan menggunakan MRI pada wanita tertentu dengan faktor risiko tinggi kanker payudara.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine (351:5 427-437) para peneliti menemukan bahwa MRI dapat mendeteksi kanker payudara yang luput dilakukan mammogram pada wanita berisiko tinggi. MRI deteksi kanker payudara tidak dapat selalu membedakan antara kanker invasif atau tumor jinak sama seperti USG tidak selalu bisa mendeteksi microcalcification (kumpulan kecil mineral) tertentu. Penelitian ini memberikan dukungan kepada kesimpulan bahwa dengan menggunakan kedua metode deteksi pada wanita dengan faktor risiko tinggi adalah lebih baik daripada menggunakan salah satu saja.

MRI juga saat ini digunakan pada wanita muda dengan jaringan payudara padat atau untuk melihat kelainan payudara yang dapat dirasakan tetapi tidak terlihat menggunakan USG atau mamografi.

Skrining tahunan menggunakan mamografi dianjurkan untuk perempuan berusia di atas 40 tahun yang tingkat risiko terkena kanker payudara adalah sedang. Namun bagi wanita lain yang memiliki faktor risiko tinggi seperti kanker payudara sebelumnya, riwayat keluarga, atau mutasi genetik, penggunaan MRI deteksi kanker payudara dapat meningkatkan deteksi dini serta pengobatannya.