depresiMenderita sakit yang sangat hebat dan satu-satunya cara menanggulanginya adalah bersembunyi diruangan yang gelap dan sunyi pastilah membuat setiap orang menjadi frustasi. Potensi penderita migrain  untuk mengalami depresi klinis adalah 5 kali lebih besar daripada mereka yang tidak menderita migrain. Sebaliknya, potensi mereka yang mengalami depresi untuk menderita migrain adalah tiga kali lebih besar daripada mereka yang bahagia.

Banyak ilmuwan melihat kaitan antara migrain dan depresi seperti halnya ayam dan telur. Keduanya selalu berhubungan, tapi apakah yang satu  menyebabkan yang lain ? Jika iya, yang mana yang memulainya, migren atau depresi? Jawabannya tidak mudah. Migren, depresi, dan begitu juga dengan insomnia mempunyai penyebab yang hampir sama. Ketiganya dihubungkan dengan kekurangan transmisi syaraf (neurotransmitter) di otak.

Para dokter percaya bahwa karena berhubungan, depresi dan migrain memiliki penyebab yang berbeda dengan neurobiologi yang mirip. Selama bertahun-tahun para dokter menyalahkan depresi para penderita migrain sebagai penyebab berkurangnya kualitas hidup karena sakit kepala. Namun sekarang dapat dilihat kaitannya lebih kepada hubungan faktor biologis dari pada faktor psikologi.

Salah satu bahaya untuk penderita migrain depresi klinis adalah kemungkinan interaksi antara obat untuk depresi dan obat untuk migrain. Pada July 2006 FDA menemukan satu bahaya, yang disebabkan campuran antara triptans, obat untuk migrain dengan SSRI(Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) atau SNRI(Serotonin and Noripinephrine Reauptake Inhibitor), obat yang digunakan untuk penderita depresi. Campuran dari kedua obat tersebut dapat menimbulkan sebuah kondisi yang disebut sindrom serotonin.

Sindrom serotonin timbul saat terdapat terlalu banyak serotonin didalam tubuh. Gejalanya adalah halunisasi, jantung berdetak lebih cepat dan suhu tubuh meningkat, perubahan yang cepat pada tekanan darah dan rasa tidak enak di perut. Kadangkala seorang penderita tidak punya pilihan dan harus mengonsumsi kedua obat ini bersama-sama, namun mereka harus selalu berkonsultasi dengan dokter dan harus diawasi terhadap kemungkinan sindrom serotonin.