Klinik di Indonesia Memanfaatkan Rokok Sebagai Penyembuh Kanker

JAKARTA, 12 April 2011 (AFP) - Seorang wanita Indonesia menghembuskan asap rokok ke dalam mulut seorang pasien berbadan kurus yang telanjang di sebuah klinik di Jakarta, di mana tembakau secara terbuka disebut-sebut sebagai penyembuh kanker.

Pasien asing itu menderita emfisema, suatu kondisi yang dikembangkan dari puluhan tahun merokok. Seiring dengan kanker dan autisme, itu hanya salah satu penyakit yang diklaim oleh Klinik Griya Balur bisa disembuhkan dengan rokok.


"Saya merindukan hal ini," ujar wanita yang merupakan pelanggan tetap klinik itu dengan aksen Amerika, sementara lagu "I Can Feel It" dari Phil Collins mengalun di belakang.

Griya Balur pasti akan ditutup di berbagai belahan dunia, namun tidak begitu di Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil tembakau yang berusaha untuk mencari pengganti keuntungan dari negara Barat yang sadar kesehatan.

Tradisi lama penggunaan tembakau yang digabungkan dengan peraturan yang buruk dan milyaran dolar yang mengalir ke dalam kas pemerintah dari industri tembakau berarti tempat seperti Griya Balur tidak dipermasalahkan.

"Pengobatan" bagi penderita emfisema termasuk peniupan asap dari "rokok suci" yang diresapi "nanoteknologi" untuk menghilangkan "radikal bebas" penyebab kanker melalui sebuah selang ke dalam paru-parunya yang bermasalah.

Asap juga dihembuskan ke dalam telinga dan hidungnya, sementara Ia memegang segelas aspirin di atas mata kanannya. Tampaknya musik Phil Collins tidak memiliki efek menyembuhkan.

Pendiri Griya Balur, Dr. Gretha Zahar menyampaikan kepada AFP bahwa Ia telah mengobati 60.000 orang dengan asap tembakau selama sepuluh tahun terakhir. Dengan gelar Doktor dalam kimia nano dari Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat, Zahar percaya bahwa dengan memanipulasi merkuri di dalam tembakau dapat menyembuhkan segala penyakit termasuk kanker, dan bahkan bisa membalikkan proses penuaan.

"Merkuri adalah penyebab dari semua penyakit. Di dalam rokok saya - kami menyebutnya Rokok Suci - ada zat yang mengekstrak merkuri dari tubuh," katanya. Pada situs web yang dimilikinya, Ia mengatakan bahwa Ia tidak perlu melakukan uji coba klinis atas teorinya atau mempublikasikannya di dalam jurnal peer-review, Ia juga tidak punya dana untuk "melawan para ilmuwan kedokteran Barat".

Klaim Zahar baru-baru ini disampaikan kepada Makamah Kosntitusi di mana para petani dan legislator dari pusat tembakau Jawa Tengah menentang undang-undang yang mengganggap daun tersebut bersifat adiktif.

Aris Widodo seorang profesor farmakologi di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, mengatakan kepada Makamah bahwa Ia tidak pernah mendengar orang yang meninggal karena merokok. Sebaliknya, merokok baik untuk Anda, katanya.

"Merokok dapat menghilangkan kecemasan, mempertajam konsentrasi dan menenangkan syaraf. Rokok adalah alternatif murah dari obat-obatan lain yang mahal seperti valium," katanya.

Tembakau menimbulkan ketergantungan dan berbahaya bagi kesehatan, namun orang Indonesia melakukan kebiasaan ini dalam jumlah besar, didorong oleh pemasaran yang agresif dari industri tembakau.

Para perokok berada di mana-mana dari mulai di salon kecantikan hingga di ruang tunggu dokter gigi. Orang tua memberikan rokok pada anak balita agar tidak rewel. Rokok diberikan kepada anak remaja bersamaan dengan tiket konser. Undang-undang larangan merokok di tempat umum jarang ditegakkan, dan iklan-iklan rokok ada di mana-mana dari pinggir-pinggir jalan hingga layar televisi.

Rokok harganya sekitar 8 ribu untuk sebungkus rokok isi 20 batang, meski begitu rokok merupakan barang terbesar kedua untuk pengeluaran rumah tangga setelah makanan bagi keluarga-keluarga termiskin di Asia Tenggara.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat merokok telah meningkat enam kali lipat di Indonesia selama 40 tahun terakhir. Merokok membunuh sedikitnya 400.000 orang setiap tahun dan 25.000 orang lainnya mati karena menjadi perokok pasif.

Namun, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum memberikan persetujuan atas Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau WHO (Framework Convention on Tobacco Control) yang menetapkan rekomendasi kebijakan dan tolak ukur bagi negara-negara yang bersangkutan tentang dampak kesehatan dari merokok.

Produsen rokok terbesar di Indonesia, PT HM Sampoerna merupakan afiliasi dari Philip Morris International. Perusahaan British American Tobacco telah membeli PT Bentoel pembuat rokok terbesar keempat seharga 494 juta dolar AS pada tahun 2009.

Pemerintah menuai sekitar tujuh miliar dolar AS pajak cukai per tahun dari industri tersebut, yang mempekerjakan puluhan ribu orang di sekitar Temanggung, Jawa Tengah.

Para aktivis anti-rokok mengatakan bahwa para pemain industri menggunakan pedoman pemasaran lama mereka untuk mengaburkan ilmu pengetahun dan membentuk gambaran bahwa merokok itu keren, maskulin, glamor dan bahkan sehat, khususnya bagi perempuan dan anak-anak.

Selama pembahasan peraturan merokok pada tahun 2009, klausul yang menyatakan ketergantungan tembakau hilang dari draft akhir. Pemerintah mengatakan bahwa kelalaian itu dalam pengawasan dan kemudian klausa tersebut dimasukkan kembali.

Pejabat kementrian kesehatan, Budi Sampurno sempat ditanyai tapi ia berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan rokok tidak ada hubungannya dengan itu. "Tidak pernah. Apakah ada bukti apapun bahwa Kita tidak pernah didekati oleh perusahaan rokok? Itu bukanlah praktek hukum,"katanya.

Dr Hakim Sorimuda Pohan, seorang legislator Partai Demokrat yang membantu membentuk rancangan UU Kesehatan, mengatakan tidak ada keraguan perusahaan rokok besar berada di balik shenanigans (aktivitas-aktivitas rahasia dan tidak jujur - red). "Mereka melakukan hal yang sama di tahun 1992. Perusahaan tembakau berhasil menghilangkan klausa yang sama dari UU,"katanya.

 

 

oleh Angela Dewan

Sumber: Agence France-Presse - Terjemahan: DokterMu.com