Pesan Teks Melipatgandakan Peluang Berhenti MerokokPARIS, 29 Juni 2011 (AFP) - Orang yang mencoba berhenti merokok memiliki dua kali kemungkinan lebih besar untuk berhasil jika menggunakan pesan teks telefon genggam untuk menyemangati mereka, demikian menurut sebuah studi yang dilaporkan pada hari Kamis oleh jurnal kesehatan The Lancet.

Para dokter Inggris melibatkan 58.000 perokok dan

membagi mereka secara acak ke kelompok yang menerima SMS yang dirancang khusus atau ke kelompok kendali.

Kelompok pertama menerima lima pesan teks sehari selama lima minggu pertama dan kemudian tiga per minggu untuk enam bulan selanjutnya.

Pesan tersebut - dibuat dengan bantuan dari para perokok itu sendiri, memberikan saran untuk menjaga berat badan sembari berhenti merokok dan menyemangati peserta untuk tetap bertahan.

"Ini dia! - HARI BERHENTI, buang semua rokok Anda," adalah salah satu contoh pesan yang mereka terima pada hari mereka memulai berhenti merokok. "HARI INI adalah awal untuk BERHENTI MEROKOK selamanya, kamu bisa melakukannya!"

Para relawan di dalam kelompok ini juga memiliki sistem personalisasi yang ketika dibutuhkan mereka mendapat bantuan dengan mengirim pesan kata "ingin merokok" atau "kelepasan".

Mereka akan menerima balasan seperti ini: "Rasa ingin merokok rata-rata hanya berlangsung kurang dari 5 menit. Untuk membantu mengalihkan diri Anda, cobalah menyeruput minuman secara perlahan sampai keinginan untuk merokok menghilang."

Untuk respon terhadap pesan kata "kelepasan", mereka akan menerima jawaban seperti ini; "Jangan merasa buruk atau bersalah jika Anda kelepasan. Anda telah mencapai banyak dengan menghentikan untuk sementara waktu. Kelepasan bisa jadi merupakan bagian yang normal dalam proses berhenti merokok. Ayo terus coba lagi, kamu bisa melakukannya!"

Sebaliknya, para perokok di dalam kelompok kendali menerima SMS biasa setiap dua minggu yang berisi ucapan terima kasih telah turut ambil bagian atau meminta konfirmasi rincian kontak atau pesan lain yang tidak berhubungan dengan merokok.

Selama percobaan itu, para relawan di kedua kelompok mengirimkan sampel air liur mereka lewat pos. Air liur ini kemudian dites nikotin, senyawa kimia yang ditemukan pada rokok, untuk melihat apakah mereka masih merokok atau sudah berhenti.

Setelah enam bulan, 10,7 persen pada kelompok yang didukung SMS terus menerus bebas dari rokok, namun ini hanya 4,9 persen di kelompok kendali. Keberhasilannya serupa di semua usia dan kelompok sosial.

Para peneliti mengungkapkan bahwa percobaaan "txt2stop" (pesan teks untuk berhenti) mendemonstrasikan suatu alat yang kuat, rendah biaya untuk memerangi kecanduan rokok - dan merupakan sesuatu yang bisa disesuaikan di seluruh dunia.

Pada tahun 2009, lebih dari dua pertiga populasi dunia memiliki telefon genggam dan 4,2 trilyun pesan teks yang terkirim.

"Pesan teks merupakan cara yang sangat baik sekali bagi para perokok untuk menerima dukungan untuk berhenti," ungkap Caroline Free dari Kedokteran Tropis dan Kebersihan London School yang memimpin percobaan tersebut.

"Orang menggambarkan txt2stop seperti memiliki seorang 'teman' yang menyemangati mereka atau seperti seorang 'malaikat di pundak mereka'. Hal ini membantu orang menahan godaan untuk merokok."

Txt2stop merupakan penyelidikan terbaru dari pesan telefon genggam sebagai sarana medis.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan bulan November lalu, pasien terinfeksi HIV di Kenya menerima pesan teks pengingat untuk meminum obat harian AIDS 12 persen lebih cenderung untuk mematuhi resimen pengobatan daripada pasien yang berada di kelompok tanpa pesan teks.

Merokok telah membunuh lebih dari lima juta orang setiap tahun, dan dua dari tiga orang perokok di Inggris telah mengatakan bahwa pada satu titik mereka ingin berhenti merokok, menurut angka yang dikutip dalam studi tersebut.

Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa SMS mendorong penghentian kebiasaan merokok, namun percobaan ini hanya berlangsung enam minggu, dibandingkan dengan yang enam bulan, dan hasilnya dilaporkan sendiri oleh para relawan bukan diperiksa dalam tes laboratorium.

Sumber: Agence France-Presse - Terjemahan: DokterMu.com