SYDNEY, 30 Juni 2011 (AFP) - Perdana Menteri Australia Julia Gillard menawarkan bantuan bagi industri hewan ternak sebesar AUS$ 30 juta pada hari Kamis sebagai kompensasi akibat larangan ekspor ke Indonesia yang telah memasuki minggu keempat.

Perdagangan telah dihentikan pada awal bulan Juni ini setelah sebuah tayangan dokumenter yang menunjukkan gambar kebrutalan di suatu rumah jagal Indonesia yang mimicu reaksi kemarahan di Australia, dimana Australia menyediakan seperlima kebutuhan daging sapi di Indonesia.

Namun larangan tersebut telah merugikan peternak domba Australia, yang mengklaim kerugian sampai dengan AUS$ 1 milyar, dengan jumlah stok dan lahan yang menurun karena pasar lokal dibanjiri dengan stok sapi yang berlebihan.

Gillard memutuskan mengeluarkan paket penyelamatan sebesar $30 juta bagi industri ekspor hewan ternak sebagai pembicaraan yang terus diupayakan dengan Indonesia, dan menekankan bahwa hal ini merupakan prioritas utama untuk mengembalikan perdagangan tahunan sebesar AUS$ 320 juta.

"Saya ingin menekankan bahwa hal ini merupakan paket penyelamatan jangka pendek," Gillard mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan dengan para peternak di Darwin.

"Hal terbaik yang dapat kami lakukan untuk industri adalah dengan meneruskan perdagangan dengan Indonesia, dengan masalah kesejahteraan hewan yang ditujukan, dan kami telah berupaya keras untuk masalah ini.

Gillard mengatakan bahwa ekspor yang diberhentikan merupakan "keputusan yang tepat" untuk memastikan perdagangan telah memiliki masa depan yang berkelanjutan tanpa adanya penundaan lebih lanjut karena kekhawatiran yang memuncak ini.

"Hal terburuk yang dapat terjadi bagi industri adalah kami tidak dapat menyelesaikan masalah kesejahteraan hewan saat ini. Dan masalah perdagangan akan terus mengalami gangguan entah dalam jangka dua sampai empat tahun," ditambahkannya.

Meskipun Gillard menekankan bahwa "tidak ada seorangpun yang ingin penghentian ini bertahan lebih lama dari kebutuhan yang ada", sehingga Gillard tidak dapat mengambil keputusan kapan larangan ini akan berakhir.

Larangan ekspor ini diikuti setelah adanya rilis rekaman yang menayangkan pekerja rumah jagal Indonesia yang berulang kali memotong hewan ternak sehingga menuduh mereka melakukan penganiyaan fisik secara ekstrim.

Ekspor hewan ternak juga termasuk domba, senilai AUS$ 1,14 milyar pada tahun 2010 menurut jumlah yang telah dirilis minggu ini, dimana untuk Indonesia sendiri tercatat sebesar $320 juta sehingga merupakan pasar terbesar bagi Australia.

Lembaga pertanian nasional ABARES telah mengestimasi bahwa larangan akan memangkas total ekspor hewan ternak sebesar 17 persen untuk tahun 2010 hingga 2011, dan mengurangi pengiriman ke Indonesia sebesar 38 persen untuk 445,000 hewan ternak.

 





Sumber: Agence France-Presse - Terjemahan: DokterMu.com