Penelitian Terbaru Tentang Kanker Rahim
Informasi kesehatan - Kanker rahim
Tingkat kelangsungan hidup lima tahun dari penderita kanker rahim berkisar antara 25% dan 96% tergantung pada stadium kanker saat diagnosis, kesehatan si penderita, penanganan pengobatan dan jenis
tumor. Penelitian terbaru
kanker
rahim adalah dalam tahap penelitian dan uji klinis stadium kanker.
Dalam penelitian para ilmuwan mencari tahapan dan cara menghentikan pertumbuhan tumor,
metastasis dan bagaimana membunuh
sel-sel kanker. Selama uji klinis ilmuwan telah menemukan obat-obatan atau bahan kimia dalam lingkungan laboratorium. Setelah mendapat ijin dari Pemerintah Federal AS untuk menggunakan bahan kimia ini, izin dari administrasi rumah sakit dan pendanaan dari perusahaan obat yang akan membuat obat untuk digunakan pada manusia kemudian memasuki tahap uji klinis di mana akan diuji pada pasien yang menderita kanker rahim.
Periode waktu antara riset uji klinis dan rilis obat berkisar antara 5 sampai 15 tahun tergantung pada seberapa cepat suksesnya tahap penelitian dan berhasilnya obat ini dengan manfaat yang besar tanpa efek samping bagi pasien.
Karena ada beberapa jenis kanker rahim, penelitian dan pengembangan terbaru kanker rahim difokuskan pada masing-masing kelompok tertentu, pengangkatan, grading atau membuat jenis pengobatan yang spesifik dan sesukses mungkin.
Salah satu studi penelitian terbaru yang dilakukan oleh NIH atau National Institutes of Health adalah pengobatan
Sarkoma
Uterus yaitu jenis kanker rahim yang melibatkan lapisan otot rahim. Para ilmuwan mengevaluasi perbedaan antara menggunakan radiasi panggul utuh atau
kemoterapi untuk mengobati sarkoma. Jumlah penderita kanker rahim jenis Sarkoma 3-5% dan sampai saat ini belum ada evaluasi untuk menentukan jenis pengobatan yang paling tepat pasca reseksi bedah dalam mengobati sarkoma.
Jenis Carcinosarcoma rahim adalah jenis sarkoma yang tumbuh dengan cepat, cepat bermetastasis dan sulit untuk diobati. Peneliti dari NIH baru-baru ini mengeluarkan hasil sebuah penelitian yang menunjukkan wanita yang diobati dengan ifosfamid dan paclitaxel dapat hidup lima bulan lebih lama daripada mereka yang diobati dengan ifosfamid saja.
Dalam National Cancer Institute Bulletin Oktober 2006 peneliti melaporkan temuan mereka antara perbedaan tingkat kelangsungan hidup antara wanita Amerika Afrika dan Kaukasia. Penelitian kanker baru rahim ini menunjukkan bahwa tingkat ketahanan hidup wanita Amerika Afrika lebih rendah dari wanita kaukasia yang didiagnosis stadium lanjut kanker rahim. Teori pertama termasuk perbedaan dalam pengobatan para wanita. Tetapi dengan evaluasi penelitian lebih lanjut ditemukan bahwa perbedaan dalam tingkat kelangsungan hidup tidak terkait dengan perbedaan dalam pengobatan karena kedua kelompok menerima perawatan yang sama. Alasan perbedaan perlu dievaluasi lebih lanjut untuk membedakan dampak socioecomonic, biologis dan budaya pada protokol pengobatan.
Penelitian terbaru telah menemukan
enzim yang membantu memperbaiki kerusakan
DNA. Para peneliti telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa kanker dapat disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel DNA yang menghasilkan pola pertumbuhan sel yang tidak biasa. Sekarang kita memahami ketika kanker rahim diderita salah satu anggota keluarga berarti
gen yang mengontrol enzim untuk memperbaiki DNA memiliki kecacatan. Cacat ini memungkinkan kerusakan DNA lebih banyak dan meningkatkan risiko kanker rahim. Penemuan ini dapat membantu meningkatkan kemungkinan kanker dapat dideteksi lebih awal karena metode deteksi dini dapat dimanfaatkan wanita yang memiliki kondisi ini.
Salah satu penanda tumor yang digunakan untuk kanker
ovarium adalaha CA 125. CA 125 telah ditemukan dan digunakan untuk menentukan adanya kemungkinan kambuhnya kanker rahim. Hal ini berlaku jika penanda membuktikan sebelum stadium bedah. Hal ini juga dapat membantu menentukan kemungkinan keterlibatan
kelenjar getah bening.
Dalam satu uji klinis skala besar dimana dokter yang menggunakan operasi laproscopic untuk mengangkat uterus, ovarium dan
kelenjar getah bening melalui vagina dapat secara signifikan mengurangi waktu pemulihan. Dengan menggunakan kamera laproscopic dokter juga dapat memvisualisasikan rongga panggul untuk tanda-tanda lebih lanjut dari kanker tanpa prosedur yang lebih invasif.
Saat ini ada juga studi penelitian untuk mengevaluasi
terapi biologis dalam mengobati kanker rahim dengan menggunaan obat kombinasi dengan radiasi dan kemoterapi. Beberapa dari studi ini mencoba mencari cara untuk mengurangi efek samping dari pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup wanita itu sendiri disamping mereka menjalani terapi secara invasif.



