Jerawat dan Suplemen Vitamin

joomplu:29Karena mayoritas populasi dunia manusia menderita jerawat di usia tertentu dalam hidup mereka, tidak mengejutkan jika berbagai usaha diinvestasikan untuk menemukan cara menanganinya. Meskipun sudah ada beberapa jawaban dengan definisi apakah jerawat disebabkan oleh masalah hormonal dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya (resep obat, pengobatan herbal tertentu, dsb), masih ada banyak faktor yang tidak diketahui yang bisa menyebabkan jerawat.

Bagaimanapun juga, dari segala pertanyaan mengenai jerawat yang belum ditemukan jawabannya melalui ilmu pengetahuan, salah satu yang paling menjadi perdebatan adalah apakah diet mempengaruhi jerawat atau tidak.

Dalam sejarah, diet dianggap terkait dengan jerawat. Para dokter dan ibu rumah tangga sama percayanya bahwa makanan tinggi lemak dalam diet seseorang akan menyebabkan kompleksitas lemak dan akan menyebabkan munculnya jerawat.

Namun seiring berjalannya waktu, ilmu pengetahuan tidak menemukan kaitan langsung antara makanan tinggi lemak dan jerawat. Karena jerawat disebabkan oleh pertumbuhan bakteri dalam sebum dan terperangkap dalam pori – pori yang tersumbat, tidak ada hal yang disebut "sekresi minyak berlebih". Jadi, paling tidak selama 15 tahun, pengobatan barat telah menentukan bahwa tidak ada hubungan antara diet Anda dan jerawat.

Tapi, sebuah penelitian pada tahun 1997 telah menguatkan kembali, mengenai pendapat "diet mempengaruhi jerawat" dan kali ini perdebatan yang ada sedikit lebih tegang.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Lit Hung Leung dan menyatakan bahwa munculnya jerawat terjadi karena tubuh tidak mampu memproduksi cukup koenzim A untuk menguraikan asam lemak yang membentuk Sebum. Alasannya adalah, Koenzim A mungkin merupakan enzim tunggal yang paling dibutuhkan dalam tubuh. Koenzim A ini mensintesiskan hormon seks, yang nantinya menguraikan asam lemak.

Satu – satunya bagian dari koenzim A yang tidak diproduksi tubuh adalah vitain B5. Jadi jika ada kekurangan vitamin B5, makan akan kekurangan koenzim A juga. Dan jika kekurangan koenzim A, yang akan digunakan oleh tubuh untuk mensintesiskan hormon seks, maka asam lemak tidak akan terurai.

Jadi, Anda bisa melihat kemana arah dari penjelasan ini, lebih banyak asam lemak, lebih banyak produksi sebum dan lebih banyak jerawat.

Sekarang, yang menarik adalah Dr. Lit Hung Leung memperkuat analisanya dengan mencobanya pada 100 orang. Kelompok ini meminum pantothenic acid (B5) sebanyak 10 gram atau lebih setiap harinya dan menggunakan sebuah krim B5 terkait, dengan prosentase 20% dari berat total. Setelah 2 – 3 kali, produksi sebum menjadi berkurang dan mereka yang memiliki jerawat juga mendapati adanya pengurangan. Mereka yang memiliki jerawat yang sedikit ekstrim, dosis B5 yang lebih tinggi digunakan (sekitar 15 – 10 gram setiap harinya) dan perawatan yang dijalakan diperpanjang untuk melihat perubahan, kadang sampai 6 bulan.

Jadi, meskipun satu penelitian ini tidak dengan jelas membuktikan apakah B5 bisa mencegah atau mengurangi jerawat, namun hal ini patut dipertimbangkan, terutama mereka yang menginginkan penyembuhan alami atau herbal untuk jerawat dan tidak ingin menggunakan bahan kimia seperti benzoil peroksida, atau resep lain dalam perawatan jerawat.

Dengan semua perawatan medis, yang terbaik adalah tetap berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba.

Olahraga dan kesehatan