Gejala Depresi yang Dialami oleh Pasien Bipolar

depresiPenyakit yang berbeda sering menimbulkan banyak kebingungan bagi kita. Depresi sudah pernah disebutkan dalam catatan sejarah. Jika Anda pernah medengar cerita tentang Ayub dan Raja Daud, mereka juga menderita gangguan tersebut. Bahkan Hippocrates juga menyebut tentang depresi, tetapi pada waktu itu, istilahnya adalah Melankoli yang secara harfiah berarti

empedu hitam. Sebelumnya, fisiologi medis melontarkan lelucon tentang empat cairan yaitu empedu hitam, empedu kuning, darah, dan dahak. Seni dan sastra juga telah menggambarkan depresi selama bertahun-tahun. Tetapi saat ini, apa yang dimaksud dengan Gangguan Depresi?

Gangguan Depresi bukan hal baru, pada kenyataannya, selama bertahun-tahun banyak orang yang  menderita gangguan tersebut tanpa mendapatkan pengobatan apapun. Saat ini jutaan orang mengalami ganguan itu tanpa mereka sadari. Dan orang-orang yang sudah menyadarinya tidak mau menerima kenyataan karena mereka menganggap hal itu cukup memalukan. Seperti penyakit lain, Gangguan Depresi juga dibagi menjadi beberapa jenis. Biasanya orang-orang sudah mengenal Depresi Berat, Dysthymia, dan Gangguan Bipolar.

Seseorang terkena Depresi Berat jika dia menunjukkan gejala-gejala seperti suasana hati yang  sedih, ketidakmampuan untuk bekerja, makan, tidur, dan tidak bisa menikmati hidup. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi kehidupan pasien. Dysthymia adalah jenis depresi yang tidak terlalu parah dibandingkan dengan Depresi Berat. Gejala-gejala jangka panjang dapat dicatat, dan beberapa kejadian ada yang termasuk dalam kategori Depresi Berat. Gangguan Bipolar melibatkan siklus depresi atau siklus mania (kegilaan). Meskipun tidak dapat disembuhkan, pasien masih dapat mengendalikan dan menstabilkan episode yang mereka lalui dengan melakukan perawatan atau obat-obatan.

Gangguan Depresi memiliki banyak gejala. Ketika seorang pasien Bipolar berada dalam siklus depresi, dia bisa mengalami semua gejala gangguan depresi. Namun, jika orang tersebut berada di dalam siklus mania, dia hanya akan mengalami gejala yang berhubungan dengan siklus tersebut.

Berikut ini adalah daftar dari gejala-gejala depresi yang dirasakan oleh pasien Bipolar:

 

  • Terus-menerus cemas, sedih, dan 'mood yang kosong'
  • Hilangnya kesenangan dan minat dalam kegiatan atau hobi yang biasanya disukai
  • Merasa pesimis, putus asa, perasaan bersalah, tidak berdaya, dan tidak berharga
  • Tidur berlebihan atau insomnia
  • Terlalu banyak makan yang akhirnya menyebabkan berat badan naik
  • Nafsu makan turun yang menyebabkan berat badan juga turun
  • Berpikir tentang kematian dan bunuh diri
  • Menurunnya energi dan kelelahan
  • Mudah marah dan gelisah
  • Tidak bisa membuat keputusan, tidak dapat berkonsentrasi dan tidak dapat mengingat banyak hal
  • Gejala-gejala fisik seperti rasa nyeri yang parah, sakit kepala, dan gangguan pencernaan

Gejala-gejala tersebut tidak semuanya dirasakan oleh seorang pasien Bipolar. Beberapa dari mereka mungkin hanya mengalami beberapa gejala saja sedangkan yang lain mungkin mengalami gejala yang lebih banyak. Tiap-tiap individu menunjukkan bermacam-macam tingkat keparahan dari setiap gejala yang terjadi.

Untuk mendapatkan perawatan yang tepat, pasien harus menjalani pemeriksaan psikologis dan fisik secara lengkap. Hal ini perlu dilakukan untuk menentukan jenis depresi apa yang dia derita. Gejala Depresi Bipolar bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu atau karena obat-obatan. Melalui wawancara dengan dokter, tes laboratorium, dan pemeriksaan fisik, beberapa kemungkinan penyebab depresi tersebut dapat dikesampingkan.

Evaluasi diagnostik akan melihat pada riwayat gejala-gejala yang pernah dialami oleh pasien dan dokter akan menanyakan segala macam pertanyaan seperti kapan gejala itu dimulai, berapa lama berlangsung, seberapa parah, dan apakah gejala tersebut pernah terjadi sebelumnya. Pasien juga akan ditanya apakah dia sudah pernah mendapatkan perawatan sebelumnya dan obat-obatan apa yang diberikan. Dokter juga harus menanyakan apakah pasien Bipolar itu mengkonsumsi narkoba dan alkohol, atau apakah dia pernah berpikir tentang bunuh diri dan kematian. Pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat kesehatan anggota keluarga juga tidak boleh dilupakan.

Gejala Depresi Bipolar juga dapat mempengaruhi status mental seorang pasien. Evaluasi ini dapat menentukan apakah pola pikir, ucapan, dan memori dari seorang  pasien sudah terpengaruh. Gangguan mental tidak memerlukan tes laboratorium seperti sinar X atau tes darah. Pemeriksaaan yang lebih baik seperti MRI, CT, PET, dan SPECT tidak dapat mendeteksi perubahan otak seorang pasien Bipolar dan pasien penyakit mental lainnya.

Hanya dokter yang dapat mengevaluasi keadaan pasien Bipolar dengan tepat. Dia juga dapat membantu pasien dalam mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat untuk mengendalikan episode yang mereka alami. Keluarga atau teman-teman pasien tidak pelu takut terhadap gejala-gejala yang dialami oleh seorang pasien. Meskipun gejalanya sudah tampak normal bagi seseorang, hal itu masih perlu ditangani. Hal ini dapat membuat orang lain prihatin dengan keadaan pasien karena mereka mungkin menganggapnya gila, terutama jika pasien sudah melakukan hal-hal yang ekstrim.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Periksalah apakah Anda mengalami gejala-gejala utama dari Bipolar, dan jika Anda menunjukkan beberapa gejala tersebut, mungkin Anda telah menderita Bipolar.

Olahraga dan kesehatan