Apakah Depresi Itu?

Apakah Depresi Itu? cap=D]epresi pernah disebut-sebut sebagai penyakit yang biasa terjadi, seperti halnya flu, namun menyerang kondisi mental seseorang. Setidaknya anggapan ini ada sampai diperkenalkannya obat Prozac pada tahun 1990. Ketika itu Depresi akhirnya disadari sebagai sebuah kelainan dan tidak terjadi pada semua orang.

Pernahkah Anda berada pada kondisi galau? Merasa terpuruk sehari atau dua hari karena situasi tertentu, atau

bahkan tanpa alasan sama sekali? Mungkin kita semua pernah mengalaminya. Jadi, kapan kegalauan tersebut akhirnya berubah menjadi ketertekanan yang cukup besar?

Depresi dapat dipandang memiliki tiga bagian terpisah. Ada frekuensi gejala, yaitu seberapa sering Anda merasa seperti itu? Apakah ada kaitannya dengan masalah percintaan, seperti perpisahan dengan pasangan hidup? Atau ada masalah lain? Apakah perasaan itu muncul tiap bulan? Minggu? Atau bahkan tiap hari?

Adapula tingkat keparahan depresi, seperti seberapa buruk perasaan Anda? Apakah Anda terpikir untuk bunuh diri? Dalam skala 1-10 dengan 10 merupakan kondisi terburuk, angka berapa yang mewakili perasaan Anda tersebut?

Dan bagian terakhir adalah durasi. Walaupun ini tampak seperti frekuensi, namun ini hal yang berbeda sama sekali. Frekuensi menggambarkan seberapa sering perasaan itu muncul, sedangkan durasi berkaitan dengan berapa lama kondisi ini berlangsung. Apakah kegalauan Anda telah berlangsung beberapa minggu? Beberapa bulan? Atau bahkan beberapa tahun?

Depresi adalah kelainan mood yang mempengaruhi kesehatan mental Anda dan dapat berefek negatif terhadap kemampuan dan fungsi tubuh Anda dalam melakukan kegiatan harian. Atau ia hanya mengakibatkan Anda mengisolasi diri dari teman-teman namun Anda sendiri tetap bekerja seperti biasa. Depresi dapat berlawanan dengan keceriaan aktivitas sehari-hari Anda dan dapat menyebabkan keluhan somatis. Keluhan ini dapat berupa sakit fisik dan nyeri yang disebabkan oleh tekanan mental dan kesedihan mendalam.

Terdapat berbagai anggapan mengenai apa yang sebenarnya menyebabkan depresi. Banyak orang percaya bahwa pada beberapa individu, mereka secara genetik memiliki kecenderungan untuk terkena depresi ketika menghadapi pemicu psikis yang tepat. Di lain pihak, ada juga para ahli yang percaya bahwa dengan pemicu yang tepat dan senyawa kimiawi pada otak yang terpengaruh oleh stres, maka semua individu tanpa kecuali dapat mengalami depresi klinis.

Pada sebagian orang, sangat mungkin untuk mengenali situasi spesifik yang memicu kondisi depresi yang terjadi pada diri mereka. Kondisi-kondisi spesifik tersebut dapat berupa perpisahan dengan pasangan hidup, kematian orang yang dicintai, atau kehilangan pekerjaan. Namun pada sebagian individu lainnya, hal-hal seperti ini tidak dapat diidentifikasi. Walaupun demikian, dengan terapi psikis yang tepat penderita biasanya dapat merujuk pada satu peristiwa di masa lalu yang mempengaruhi sikap mereka saat ini. Kombinasi antara trauma secara emosi dan rasa sakit dari masa silam

Olahraga dan kesehatan