Tentang kesehatan

Cerebral Palsy dan Faktor Yang Mempengaruhinya

Cerebral Palsy (lumpuh otak) bukan merupakan suatu kondisi yang memungkinkan karena hingga saat ini tidak dapat disembuhkan, dan tinggal di dalam tubuh pasien selama mereka hidup. Sayangnya, cerebral palsy didiagnosa terjadi pada bayi, seringkali tidak lama setelah waktu kelahiran.

Apa saja penyebabnya tidak diketahui secara pasti hingga saat ini, namun para orangtua diingatkan akan adanya faktor risiko.

Harus dicatat bahwa banyak pasien anak yang menderita cerebral palsy tidak menunjukkan gejala apa-apa setelah kelahiran mereka atau setidaknya selama masih berada dalam kandungan. Apa saja faktor yang berisiko meningkatkan kemungkinan terjadinya cerebral palsy? Ini beberapa di antaranya.


Usia ibu ketika hamil dapat mempengaruhi dan memperbesar kemungkinan sang anak nantinya akan menderita cerebral palsy. Pada umumnya, ibu yang berumur di atas 40 tahun ketika sedang mengandung bayinya sangat memungkinkan melahirkan bayi yang akan terkena cerebral palsy. Begitu halnya dengan ibu yang berumur kurang dari 20 tahun ketika masa kehamilannya. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa usia ayah biologis dari sang anak juga dapat menjadi salah satu faktor risiko. Pada banyak kasus, anak yang menderita cerebral palsy memiliki ayah berumur kurang dari 20 tahun.

Dulunya cerebral palsy dikenal sebagai 'black babies condition'. Sebabnya adalah, sering terjadi bahwa anak yang lahir dari orangtua beretnis Afrika-Amerika memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk menderita cerebral palsy. Namun sekarang, kondisi ini juga umum terjadi pada anak-anak berkulit putih di Eropa dan Asia. Sepertinya cerebral palsy saat ini tidak memilih-milih ras tertentu.

Wanita yang mengandung beberapa anak sekaligus (kembar) memiliki peluang untuk melahirkan setidaknya salah satu anak yang menderita cerebral palsy. Risiko bertambah sesuai dengan jumlah anak yang terkandung di rahim. Juga telah ditemukan fakta bahwa jika salah satu anak meninggal, maka anak lain yang tetap hidup akan memiliki kemungkinan cukup besar terkena cerebral palsy. Biasanya hal ini terjadi pada anak kembar. Jika salah satu meningal setelah kelahiran, anak yang satu lagi berpeluang menderita cerebral palsy.

Ibu hamil yang terkena zat beracun juga dapat menjadi faktor terjadinya cerebral palsy. Zat yang dimaksud salah satunya adalah merkuri (timbal). Dengan begitu, para ibu hamil selalu dianjurkan untuk tinggal di lingkungan yang baik dan bersih, tanpa zat-zat pencemar yang berbahaya. Selain itu, ada kemungkinan bahwa bayi akan terkena cerebral palsy setelah kelahirannya.

Kondisi kesehatan ibu secara keseluruhan tentunya juga menjadi pengaruh terbesar untuk kesehatan bayi pada umumnya. Keterbelakangan mental, kejang, dan gangguan tiroid merupakan beberapa masalah yang mungkin dialami oleh sang ibu sebelum mereka melahirkan bayi yang menderita cerebral palsy. Maka, cara terbaik adalah sang ibu harus menjaga kesehatannya sendiri karena itu juga akan menjaga si bayi yang akan lahir.

Urutan kelahiran juga dikenali sebagai faktor yang memungkinkan berkembangnya cerebral palsy saat ini. Pengamatan telah dilakukan dan menghasilkan kesimpulan bahwa yang lahir pertama dari pasangan memiliki kemungkinan yang cukup besar menderita cerebral palsy. Begitu juga dengan anak yang lahir di urutan kelima dan seterusnya. Ketidakcocokan tipe darah antara bayi dan ibu juga diidentifikasi sebagai salah satu faktor di atas.

 

Olahraga dan kesehatan